Almost full team, Asia-Pasific Conference on Communication 2016 committees. Kapan lagi bisa ngobrol sama Pak Wiseto, ketua penyelenggara sekaligus VP Telkom. Di deretan belakang ada dosen-dosen Telkom University yang super asyik dan Pak Satrio, ketua IEEE Chapter Indonesia. #Latepostlagi #Kemarintepar – at Pepper Lunch

View on Path

Andorra la Vella – Negeri di Tengah Gunung

Setelah exam hari terakhir selesai dan pasrah hasilnya kaya apa, saya memutuskan main ke Andorra la Vella, ibukota negara Andorra. Dari Barcelona Sants saya naik Directbus langsung ke Andorra dengan waktu tempuh 3 jam. Lumayan capek sebenernya apalagi saat itu saya puasa. Tapi capek itu terbayar saat melihat pemandangan yang superb. Apalagi selama beberapa bulan ini mainnya ke kota besar dengan bangunan kunonya. Begitu main ke gunung feel-nya beda banget.

IMG_5742

Ke Old City Andorra

IMG_5790

Andorra la Vella

IMG_5748

Salah satu sudut menuju Old City

Andorra adalah salah satu negara yang berada di antara Perancis dan Spanyol yang terkenal dengan pegunungan dan duty-free-nya. Jadi turis yang ke sini kalau nggak hiking, main ski, ya mungkin belanja. Barang-barang bermerk disini katanya dijual lebih murah karena duty-free-nya. Uniknya penduduk lokal Andorra ini berbahasa Catalan dan Perancis karena konon kebanyakan penduduknya kebanyakan orang Catalan.

Sampai disana, melihat Andorra la Vella yang bener-bener dikelilingi gunung, saya jadi teringat salah satu film Doraemon yang berpetualang di suatu lembah dikelilingi pegunungan cantik dan saya menemukan satu disini. Dari terminal bus menuju ke Old City Andorra, saya jalan kaki selama sekitar 10 menit. Kota ini penduduknya termasuk sedikit dan saya merasa kota ini sepi banget kalau dibandingkan dengan Barcelona yang selalu ada banyak orang yang lalu-lalang. Uniknya, orang-orang lokal disini kalau nyetir mobil suka ngebut. Mungkin karena mereka tinggal di pegunungan yang kondisi jalannya naik turun memaksa mereka memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Kalau di Jogja bisa dibilang mirip orang Gunung Kidul yang udah lincah naik turun gunung. Meskipun mereka suka kebut-kebutan tapi kalau melewati zebra cross dan ada yang mau menyebrang, mereka refleks langsung menginjak rem sampai berhenti.

Setiap jalan-jalan ke suatu kota, sebelumnya saya selalu cek terlebih dahulu spot-spot apa aja yang bisa dikunjungi. Sayangnya saat saya cari tourism spot di Andorra la Vella ini, hasil yang saya dapet termasuk sedikit, khususnya yang walkable maklum student kere. Makanya dalam waktu dua jam jalan kaki di area Old City, saya udah mengunjungi hampir semua spots yang direkomendasikan TripAdvisor seperti: Casa de la Vall, Placa del Poble, La Noblesse du Temps, dan Sant Esteve Church. Padahal saya beli tiket pulangnya pukul 18.15 dan saat itu waktu masih menunjukkan pukul 13.00.

IMG_5757

Centre de Congressos di Placa del Poble

IMG_5762

View favorit di Old City. Sepertinya ini bagian belakang Sant Esteve Church.

IMG_5766

Sant Esteve Church

IMG_5793

Casa de la Vall

Akhirnya saya message roommate saya yang pernah kesini sebelumnya buat minta rekomendasi. Dia menyarankan buat randomly keluar masuk toko-toko disana seperti Centre Comercial Andorra dan Pyrenees. Siapa tau nemu barang bagus dan terjangkau dompet lalu amnesia koper yang udah overweight di rumah. Antara opsi bagus dan nggak bagus sebenernya. Bagus karena jadi ada yang bisa dilihat sambil nunggu sampe sekitar pukul 17.00. Nggak bagusnya kalau beneran nemu barang yang saya suka dan terjangkau dompet, pas sampai rumah mau ditaro di koper sebelah mana. Duh…

IMG_5803

Sepi

IMG_5819

Sepi~

IMG_5774

Salah satu gang di Andorra la Vella

Saya pun beneran randomly jalan di area pertokoan disana. Mostly toko-toko baju dan parfum. Bahkan ada satu toko parfum sebut saja Julia yang mirip Ind*mart, setiap beberapa meter ada cabangnya. Setelah puas dan capek keluar masuk toko, akhirnya saya duduk manis sambil wifi-an di depan Centre Comercial Andorra. Bosen nongki di mall, saya pindah ke Parc Central di dekat terminal bus sambil ngeliatin dedek gemes main ayunan berlatar belakang pegunungan.

IMG_5826

Pecahhh

Throwback Andorra la Vella, 21st June 2016

Florence – Tiga Jam Saja Tak Cukup

Dari Venice, kami menempuh perjalanan ke Florence sekitar 4 jam naik bus. Turun dari bus, kami harus berpisah karena kami menginap di hostel yang berbeda. Menurut petunjuk dari Google Maps, saya seharusnya udah sampai di hostel. Tapi kok nggak ada tanda-tanda resepsionis. Saya nekat masuk aja ke apartment yang di beberapa sudut menunjukkan kalau beberapa bagian apartment ini masih bagian dari hostel yang saya maksud. Waktu saya coba naik ke atas, saya tanya ke bapak-bapak yang lewat. Bapaknya orang Italy men dan nggak bisa bahasa Inggris. Duhhh! Saya pun segera menunjukkan nama dan alamat hostelnya. Bapaknya paham dan dengan bahasa Inggris seadanya beliau nunjukin dimana meja resepsionisnya. Grazie, Signore!

Hostel ini saya booking lewat Airbnb jadi nggak seperti hostel biasanya. Dengan sistem Airbnb, kamar yang disewakan ke tourist adalah kamar milik penduduk lokal yang ada di sekitar situ. Saya dapet kamar dengan dua bed atas-bawah (bunked bed) dan cuma saya sendiri doang yang menempati kamar itu. Sebenernya kalau diinget-inget lagi kamar itu cukup creepy dengan lampunya yang remang-remang dan perabotannya yang sebagian besar model lama. Tapi yang saya suka dari kamar itu adalah jendelanya. Jendelanya model vintage tinggi besar gitu dengan daun jendela yang berlapis dua atau tiga dan menghadap ke jalan.

Setelah istirahat sebentar, saya menghubungi Fara dan kami janjian bertemu di depan Piazza del Duomo. Saya pun segera meluncur ke sana. Kota ini walkable banget, jadi kemana-mana dekat. Jarak hostel saya dan tourist attraction-nya cuma sekitar 15 menit jalan kaki.Dari hostel ke stasiun kereta juga cuma sekitar 10 menit.

IMG_1518

Piazza del Duomo

IMG_1522

Duomo atau Cattedrale di Santa Maria del Fiore tampak depan

IMG_1525

Super besar!

Sampai di Piazza del Duomo yang super besar, saya sms Fara. Sambil nunggu, saya keliling area Duomo dimana ada Cattedrale di Santa Maria del Fiore dan di depannya ada tempat pembabtisana. Sekitar satu jam saya menunggu tapi nggak ada balasan dari Fara. Saya telpon juga nggak diangkat. Hari semakin sore dan akhirnya saya memutuskan untuk jalan sendiri ke tourist attraction yang lain. Dari Duomo saya menuju ke Piazza della Signoria. Berhubung saat itu saya cuma punya waktu sekitar dua sampai tiga jam sebelum hari gelap, saya harus puas berada di depannya aja. Di depan Piazza ini bertebaran patung-patung sejenis patung Machellingo yang nggak pake baju.

IMG_1553

Piazza della Signoria

Dari Piazza della Signoria, saya lanjut ke Ponte Vecchio, salah satu jembatan yang terkenal di Florence.

IMG_1575

Suasana di Ponte Vecchio

IMG_1562

Salah satu sudut jalan di Florence

IMG_20151206_171550

Suasana Florence di malam hari.

Sepanjang perjalanan sejak dari Duomo hingga Ponte Vecchio ini banyak banget orang-orang yang berlalu lalang. Mungkin karena saat itu mulai masuk awal Desember, orang-orang lokal mulai mempersiapkan Natal. Apalagi di sekitar situ cukup banyak toko-toko yang menjual berbagai macam barang, dari yang branded sampai yang murah.

Hari mulai gelap dan saya memutuskan untuk kembali ke hostel. Di perjalanan pulang, saya sempat beli pizza tomato and cheese (karena cuma itu yang bisa dimakan. Hiks) untuk makan malam dan sarapan besok pagi. Kirain rasanya biasa aja. Ternyata enak banget.

Perjalanan saya di Florence ini memang kurang memuaskan. Awalnya saya dan Fara memperkirakan kami bakal disana kurang lebih setengah hari. Berhubung ada insiden ketinggalan kereta tadi pagi, kami cuma bisa menikmati Florence sekitar tiga jam karena besok pagi kami harus meluncur ke Pisa.

Throwback Florence, 6 December 2015

Venice – Air, Air, dan Air

Dari Paris, di pagi yang masih gelap, saya dan Fara meluncur ke airport ORY dan terbang ke Venice. Kami mendarat di Venice sekitar pukul setengah 9 pagi dan langsung mencari bus menuju ke Kota Venice. Turun dari airport bus, kami lanjut naik water bus menuju hostel yang letaknya di Pulau Giudecca di dekat Venice.

Venice adalah salah satu kota di Italy yang terdiri dari beberapa pulau. Jadi warga lokal  kalau mau kemana-mana harus naik water bus. Nggak kebayang jadi orang sana, setiap mau ke suatu tempat harus terombang-ambing dulu.

Sampai di hostel kami check-in. Tapi kami baru bisa masuk kamar setelah jam 1 siang. Alhasil saya dan Fara meninggalkan barang-barang kami di tempat penitipan barang dulu dan langsung menuju ke tourist attraction karena kami cuma sehari di kota ini.

Reaksi saya selama perjalanan di water bus menuju ke pusat kota, “Whoaa… Romantis banget kotanya, apalagi gondolanya. Jadi pengen honeymoon disini” Pffft…

IMG_1399

Salah satu sudut Kota Venice

IMG_1402

Salah satu view dari water bus

IMG_1403

Water bus papasan dengan water bus

IMG_1433

Tempat parkir Gondola

Destinasi pertama kami adalah St. Mark’s Square. Di area ini ada beberapa tourist attractions seperti  Basilica di San Marco, Piazza San Marco, dan Palazo Ducale. Sampai disana, kami ikut antri untuk naik ke San Marco Tower dan melihat pemandangan kota Venice dari atas.

IMG_1449

Salah satu sudut Kota Venice

IMG_1461

Salah satu sudut Kota Venice

IMG_1466

Salah satu sudut Kota Venice

Setelah puas berkeliling area Piazza San Marco, kami cuma random jalan kaki dan berharap menemukan tourist attraction yang lain, misalnya rumah warna-warni yang terkenal itu. Saat itu kami nggak tahu kalau Burano itu adalah pulau lain di Venice. Alhasil kami asal jalan kaki aja bahkan nggak mengecek Google Maps juga. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hostel. Malam harinya kami naik water bus lagi menuju Ponte Rialto. Kali ini kami mencoba duduk di bagian luar supaya dapet foto yang bagus. Tapi ternyata dingin banget dan anginnya lumayan menusuk muka.

Sampailah kami di Ponte di Rialto. Ponte di Rialto ini adalah salah satu jembatan besar yang terkenal gitu dan di sekelilingnya banyak toko, entah toko souvenir atau toko lainnya dan restoran. Saat kami datang, waktu menunjukkan pukul 8.00 PM. Kami memutuskan untuk ngopi cantik (tsaah) plus ngemil pizza asli Italy sambil menunggu water bus menuju hostel kami datang. Begitu sampai di hostel kami langsung persiapan tidur dan packing karena besok pagi buta kami harus check out.

IMG_1508

Jembatan Ponte di Rialto

Keesokan harinya, hari masih gelap, kami udah check out dan menunggu water bus menuju stasiun kereta. Saya yang saat itu giliran jadi navigator perjalanan ternyata salah perhitungan waktu menuju ke stasiun kereta. Harusnya kami naik water bus yang baru aja lewat saat kami sampai di halte. Tapi malah kami cuekin. Sebenarnya saya udah paham dan semalam udah cek di Google Maps, jalur water bus mana yang harus kami naiki dan yang paling cepat sampai di stasiun kereta. Berhubung saya panik setelah sadar kalau kami seharusnya naik water bus yang barusan lewat, saya pun asal naik water bus yang datang berikutnya, yang juga lewat stasiun tapi beda jalur. Pas udah duduk manis di dalem water bus, entah kenapa kecepatannya lambaaat banget sampai kami geregetan sendiri. Waktu kami cek di Google Maps ternyata jalur water bus ini memang lebih lama dan diperkirakan bisa sampai ke stasiun di menit terakhir sebelum kereta berangkat. Selama di perjalanan, kami cuma bisa berdoa supaya water busnya bisa lebih cepat lagi dan nggak ada drama ketinggalan transportasi lagi.

Sayangnya doa kami nggak terkabul. Kami ketinggalan kereta. Nyesek, jelas. Sedih, so pasti. Marah apalagi. Mau nggak mau kami harus menerima kenyataan pahit ini lagi. Haahhh… Setelah kami mulai tenang, akhirnya kami memutuskan ke Florence via bus yang berangkat sekitar dua jam kemudian atau pukul 10.00 pagi. Beli tiket lagi deh. Ngeluarin debit card lagi deh. Belajar dari dua kali ketinggalan transport ini (yang pertama ketinggalan pesawat menuju ke Paris), kami langsung menuju ke terminal bus dan menunggu di dalam cafe yang ada di dekat situ. Selama menunggu, kami kepikiran sesuatu: kok kami apes banget bisa ketinggalan dua kali sih? Kalau dipikir-pikir, menurut saya penyebab dua kali ketinggalan kami adalah gara-gara menyepelekan sholat. Alhamdulillah sholat kami tetap lengkap tapi kami sering melakukannya pas di akhir waktu. Jadi mungkin ini ‘teguran’ buat kami supaya tetap memprioritaskan kewajiban kami meskipun sedang dalam perjalanan.

Throwback Venice, 5 December 2016

Paris – Kota Cantik, tapi…

Ketinggalan Pesawat

Tanggal 2 Desember 2015 adalah hari terhectic yang pernah saya alami di Barcelona. Sore itu saya dan Fara akan terbang ke Paris. Tapi ternyata kami salah perhitungan jam jadi kami harus lari-larian sambil deg-degan selama perjalanan menuju airport karena saking mepetnya. Awalnya kami memutuskan untuk naik bus ke Barcelona Sants lalu naik R2 Rodalies ke airport. Tapi berhubung kami ketinggalan R2 dan harus nunggu 20 menit lagi, akhirnya kami putuskan untuk naik taksi. Mahal nggak papa yang penting nggak ketinggalan pesawat, pikir kami berdua. Nyeseknya, kami masih harus antri untuk dapetin taksi padahal saat itu satu menit kami bener-bener berharga. Akhirnya kami dapet taksi dan bilang ke sopirnya kalo kita buru-buru banget. Begitu tahu kalau penerbangan kami sebentar lagi, beliau meminta kami pasang seatbelt dan langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi. Literally kecepatan tinggi.

Akhirnya kami sampai di airport dan (meeeh) harus antri di security check. Mana security checknya cuma satu jalur lagi.  Fara udah coba bilang ke petugasnya kalau pesawat kami udah mulai boarding supaya didahulukan. But nope, nggak ada prioritas disini. Kami pun akhirnya cuma bisa pasrah dan berdoa supaya masih dibolehin naik ke pesawat. Setelah lewat security check, kami lari-larian lagi ke gate yang ternyata udah sepi dan kami udah nggak bisa masuk pesawat.

Dengan kondisi antara percaya dan nggak percaya kalau kami ketinggalan pesawat, kami pun keluar dari gate buat nenangin diri dulu. Berbekal informasi dari petugas di gate, kami menuju bagian airline penerbangan kami untuk mencari solusi. Bad news, airline office udah tutup dan pas kami telpon juga nggak ada yang angkat. Akhirnya kami putuskan untuk beli tiket lagi untuk besok pagi. Memang agak menguras dompet sih tapi dari Paris kami harus terbang ke Italy dimana semua tiket transport dan hostel sudah kami booking. Jadi besok pagi kami harus tetap ke Paris besok.

First dream came true

Pagi-pagi buta sekitar pukul 5 dini hari, kami meluncur ke airport. Alhamdulillah semuanya lancar, nggak pake drama-dramaan lagi dan sampailah kami di CDG airport sekitar pukul 10 pagi. Pagi itu cuacanya dingin banget meskipun belum ada salju. Kami harus stay di sekitar CDG dulu sampai jam 12.00 karena menunggu mbak Dita, salah satu kenalan yang bakal kami inepin, pulang dari kampus. Setelah sekitar 2 jam menunggu akhirnya kami beranjak dari cafe di dalam train station menuju apartment-nya mbak Dita.

Setelah 3 bulan mendekam di peradaban Barcelona, akhirnya main ke luar juga. Bener kata orang-orang, Paris memang cantik. Selama perjalanan ke pusat kota, pemandangan selama naik kereta cantik-cantik semua, salah satu yang menarik perhatian saya adalah arsitektur bangunannya. Selama ini di Indonesia khususnya di Jogja, saya cuma bisa melihat bangunan atau rumah kuno model Eropa peninggalan Belanda yang masih tersisa sambil membayangkan bangunan asli di tempat asalnya seperti apa. Disini saya bisa melihat langsung aslinya. It was my first dream come true.

Kedatangan kami ke Paris ini berjarak sekitar 2 minggu setelah bom Paris. Jadi nggak heran di airport tadi banyak banget polisi ganteng bersliweran dan kami harus melalui dua kali pengecekan passport, saat turun dari shuttle bus airport dan saat masuk ke terminal arrival. Awalnya sempat serem sendiri dan deg-degan. Tapi alhamdulillah polisinya baik dan cukup ramah. Bahkan ada yang menyapa, “Apa kabar?” waktu tahu kami dari Indonesia.

Kena Scam

Sampailah kami di apartment-nya mbak Dita. Setelah makan siang dan istirahat sebentar, saya dan Fara memutuskan untuk mulai jalan ke destinasi pertama, Sacre-Coeur.

IMG_20151203_151033

Sacre Coeur

Sacre-Coeur adalah salah satu gereja yang dibangun di puncak tertinggi Paris. Untuk menuju ke depan Sacre-Coeur kami harus mendaki beberapa anak tangga yang lumayan banyak. Ketika kami sampai di bagian paling bawah anak tangga, mimpi buruk itu pun terjadi. Di sekitar situ banyak banget cowok-cowok kulit hitam yang bertebaran menawarkan sesuatu ke orang-orang yang lewat. Insting saya mengatakan buat menghindari mereka. Saya pun refleks langsung menaiki tangga sambil agak lari  supaya bisa menghindari mereka. Tapi ternyata Fara tertahan di bawah dan saya terpaksa harus turun lagi. Sampai agak bawah anak tangga, salah satu cowok Afrika menghampiri saya dan mulai basa-basi nggak jelas sambil maksa saya menyodorkan salah satu tangan. Saya beberapa kali nolak tapi itu malah mengundang salah satu temennya untuk mendekat. Setelah berhasil memaksa saya menyodorkan tangan, dia pun mulai membuat gelang dari tiga benang yang dikepang ke pergelangan tangan saya. “This is souvenir from Africa.. Blablabla..” katanya sambil terus mengepang. Begitu gelangnya udah jadi dan lumayan kenceng terpasang di pergelangan tangan saya, mereka minta duit. Pas sesi minta duit ini ada sekitar tiga orang yang mengelilingi saya dan salah satu dari mereka berbadan agak besar. Awalnya saya mau ngasih 5 euro aja berhubung uang di dompet saya cuma ada koin, lembaran 5 euro dan  50 euro. Mereka bilang minimal 10 euro dan ada kembalian kalau uangnya gedhe (ketahuan ngintipin dompetku nih), sambil salah satu temannya yang berbadan agak kekar nunjukin uang kembalian yang ada di dompetnya. Buseeet, uangnya lengkap men, 10 euro, 20 euro, bahkan 50 euro pun ada, cuma pake modal benang warna-warni yang dikepang doang. Saya dan Fara udah bete banget dan akhirnya ngasih mereka 20 euro berdua. Akhirnya mereka melepaskan kami dan kami pun naik ke Sacre-Coeour. Lokasi pertama, di kota pertama udah dirampok aja.

IMG_20160621_005144

Inilah gelangnya

IMG_1139

Pemandangan Paris dari depan Sacre Coeur. Kami kena scam di tangga bagian bawah.

My Second dream came true: Musee de Louvre

IMG_1218

Musee d’Louvre di malam hari

Destinasi selanjutnya adalah museum impian saya, Musee d’Louvre dan kami mendapatkan free entrance dengan bermodalkan student card. Uyeee… Sayangnya kami nggak bisa menyusuri semua sudut Louvre karena hari udah sore dan museumnya udah mau tutup. Padahal pengen lihat langsung lukisan Bunda Maria yang di kerudungnya ada kaligrafi syahadat (tipikal penggemar bukunya mbak Hanum Rais banget) tapi belum ketemu. Alhamdulillah sempet salim sama Monalisa yang ternyata kecil banget dibandingkan sama lukisan sekelilingnya. Ibaratnya, lukisan Monalisa itu kertas ukuran A3 dipigura sedangkan lukisan diseberangnya segedhe baliho jumbo di jalanan Jogja. Pemandangan unik lainnya adalah orang-orang rebutan dan berusaha mencari celah buat selfi sama lukisan cuilik tapi terkenal ini padahal lukisan disekitarnya jelas-jelas lebih fancy dan cetar. Ckckck…

Hari udah mulai petang ketika kami meninggalkan Louvre dan kami memutuskan ke Arc de Triomphe. Monumen yang memperingati kemenangan Napoleon Bonaparte itu tuh, yang menurut bukunya Mbak Hanum Rais, kalau ditarik garis lurus ke arah tenggara bakal mengarah ke Musee d’Louvre lalu ke Ka’bah. Namanya juga letaknya di bunderan, disana ramai kendaraan yang lalu lalang, ditambah suhu yang lumayan bikin telapak tangan membeku. Dari Arc de Triomphe, kami jalan kaki menyusuri Champs-Elysees, salah satu jalan yang terkenal di Paris. Cantik (dan dingin) banget guys! Suasana natalnya juga terasa banget dan dekorasi khas natal makin mempercantik jalanan Paris. Kami sempat berteduh sebentar di salah satu cafe karena saking dinginnya dan tangan Fara juga udah mulai kebas. Setelah badan kami udah nggak begitu kedinginan lagi, kami memutuskan untuk lanjut jalan kaki sampai ke ujung Champs-Elysees sebelum kembali ke apartment mbak Dita.

IMG_20151203_193157_1

Di Arc de Triomphe

IMG_1229

Champs Elysees

Hari kedua

Di hari kedua ini, pagi-pagi kami udah meluncur ke Notre Dame Cathedral, salah satu cathedral yang terkenal di Paris yang terletak di tepi Sungai Seine bergaya gothic. Antrinya cukup panjang tapi masuknya gratis. Kami menghabiskan waktu beberapa jam untuk menyusuri bagian dalam yang menurut saya cukup keren dengan ke-gothic-annya. Tipikal cathedral di Eropa yang langit-langitnya super tinggi, melengkung-melengkung, dengan hiasan mozaic cantik di beberapa bagian gitu.

IMG_1264

Notre Dame Cathedral

IMG_1279

Suasana di dalam Notre Dame Cathedral

Destinasi selanjutnya adalah Luxembourg Gardens n Luxembourg Palace. Tipikal taman super luas yang biasa buat piknik sekeluarga atau sekedar lunch bareng seseorang di taman. Berhubung saya kesana pas musim gugur jadi pohon-pohonnya tinggal ranting doang. Di tengah-tengah taman ini ada sebuah palace dengan kolam di depannya. Setelah puas keliling, kami jalan kaki meluncur ke Pantheon.

IMG_1315

Salah satu sudut di Luxembourg Garden

Sampai di sana,  pemandangan yang kami dapet adalah bongkahan-bongkahan es super besar berjejer di depan Pantheon. Nggak ada yang spesial dari bongkahan es itu tapi orang-orang pada ngefoto atau foto bareng sama itu es. Kami sebentar disana dan cuma keliling di sekitarnya aja.

IMG_1322

Pantheon dan bongkahan es

IMG_1331

Suasana dari depan Pantheon. Banyak Parisian yang kongkow disitu

Tujuan selanjutnya adalah Musee d’Orsay, kalau nggak salah itu museum kereta api. Sayangnya kami nggak masuk dan jalan-jalan di sekitarnya aja di tepi Sungai Seine sambil nyanyiin Begin againnya Taylor Swift yang setting videonya di Paris.

IMG_1348

Musee d’Orsay tampak depan

Di penghujung hari kedua ini, tiba lah kami ke lokasi yang paling ditunggu-tunggu: Tour de Eiffel atau Menara Eiffel. Saya langsung excited begitu keluar dari metro dan ngelihat menara yang super terkenal itu dari kejauhan. Eiffel memang keren banget. Perpaduan antara cantik, tinggi besar dengan kaki-kakinya yang menghujam tanah Paris, dan kerumitan kerangkanya tapi memberi kesan kokoh. Setelah puas mendongak ke atas, ada pemandangan unik dan jarang tercapture saat saya melihat bagian bawah Eiffel, antrian orang-orang yang mau ke puncak Eiffel baik lewat lift atau lewat tangga. Nggak cuma itu aja, di sekitar situ apalagi di deket pintu masuk, banyak banget penjual yang rata-rata orang kulit hitam menjajakan dagangannya.

IMG_1378

Tour d’Eiffel. Whoaaa…

Setelah puas ambil foto dari berbagai sudut, saya dan Fara memisahkan diri karena dia pengen antri naik lewat lift sedangkan saya memilih mencari tempat yang kondusif buat jamak sholat. Saya akhirnya memutuskan untuk sholat di salah satu sisi taman tepat di dekat Menara Eiffel. Diliatin orang-orang yang lewat jelas iya, tapi alhamdulillah lancar-lancar aja. Habis sholat, saya sempat menunggu Fara yang (mungkin) masih di atas sampai saya memutuskan buat naik juga tapi lewat tangga sakit jiwa emang. Agak nyesel sebenernya memutuskan naik lewat tangga. Tinggi banget dan saya dapet tiketnya pas hari udah mulai gelap. Baru beberapa tingkat ketinggian yang belum tinggi-tinggi banget aja saya udah ngos-ngosan. Pas saya cek hape, ternyata Fara udah turun dan dia memutuskan pulang duluan. Alhasil saya jadi nggak bisa lama-lama di atas karena nggak begitu hafal medan (sejak awal Fara yang jadi navigatornya) plus masih takut kalau jalan sendirian plus ada deadline tugas kelompok yang harus dikumpul malam itu juga dan besok pagi-pagi banget kami lanjut terbang ke Venice.

IMG_1379

Paris malam hari dari atas Eiffel

Throwback Paris, 3-4 December 2016